Habiskan satu satu...

 

Cerita ini Ku dapat dari teman sekolah menengah atas sekitar tahun 1974-1976.

Waktu itu sepeda motor merupakan barang langka di kampungnya dan hanya orang kaya yang dapat membeli.

 


Cerita ini mengisahkan dinamika masyarakat terhadap hal yang baru di kampung, termasuk sepeda motor yang dibeli oleh tetangganya jenis Honda Cup 70 cc berwarna merah.

Kita mengetahui persneling atau gearbox  atau transmission adalah sistem yang mengatur perpindahan gigi atau transmisi pada kenderaan bermotor.  Bahasa kampung kami “gigi”, lebih mudah.

Nah, sepeda motor terutama Honda Cup pada masa itu setau Aku memiliki 3 (tiga) transmisi. Gigi satu, dua, dan tiga.

 

Hari Sabtu adalah hari pasar di kampung itu dan tentunya ramai penduduk yang datang untuk berbelanja dan cuci mata ataupun melihat keramaian menghibur diri.

 Pak Cik (panggilan kepada orang tua, paman atau om), tentu menggunakan kesempatan itu bergaya mengendarai sepeda motor barunya. Bergerak dari rumah dengan pelan dan anteng menuju pasar.

“Tapi, mengapa bunyi motornya berdengung keras?”, teman ku membatin. Alamak, apa yang terjadi!

 “Pak Cik, mengapo bunyi honda Pak Cik macam tu”, teman ku yang berjalan kaki menyapa sewaktu orang tua itu melewati dan bisa menyapa karena tak laju.

Teman Ku pun paham bahwa orang tua itu menggunakan gigi satu sehingga bunyi mesin mengaung. Mengapa tidak dipindahkan ke gigi dua. Adoi, apo pasal.

 “Pak Cik, ganti gigi”, teriak Teman ku.

“Ganti gigi apo pulak” sahut Pak Cik tu.

“Iyo lah, ganti gigi duo, gitu kalaubawak honda, Pak Cik”, balas teman ku lagi.

“Tak apo do, habis kan satu satu dulu”, sahut Pak Cik dengan tetap ngegas motornye yang berbunyi mengaung.

 

Teman Ku “......”

 

 

0 Komentar

🏠 Home